Langsung ke konten utama

Tentang Saya



Saya adalah seorang Psikolog Muda yang ingin berbagi mengenai ilmu psikologi dan isu-isu yang berkembang di sekitar kita. Saya menamatkan studi di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada program Psikolog Klinis. Saya senang menulis dan berbagi gagasan dengan orang lain. Blog ini dibuat sebagai sarana belajar dan berdiskusi lebih banyak lagi mengenai topik-topik psikologi. Saya mempunyai ketertarikan lebih pada topik psikologi anak, parenting, dan keluarga.Selain itu saya juga punya minat khusus pada art psychology, psikologi dalam hubungan dengan arsitektur, dan pendidikan.


Pada perkembangannya Cermin Warna juga menyediakan sarana layanan konsultasi online. Melaui layanan konsultasi online ini saya ingin memfasilitasi semua orang untuk mencurahkan keluh kesah, perasaan, dan pikiran pada Cermin warna. Layanan ini sama halnya dengan konsultasi psikologis biasa, jadi semua informasi dan data yang diceritakan akan segera saya respon dan tentunya terjaga kerahasiaannya.

terima kasih,

Salam :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati nurani seorang pengajar

Kalau kita lihat dalam kamus besar Bahasa Indonesia didik, mendidik artinya memelihara dan memberikan latihan. Mendidik mengandung nilai mengalirkan ilmu kepada orang lain dan memelihara agar ilmu itu tetap bermanfaat bagi orang tersebut. Dilihat dari definisi kata saja kita bisa paham bahwa "mendidik" merupakan suatu proses yang panjang dan membutuhkan pribadi yang telaten dalam melaksanakannya. Karena peserta didik adalah individu-individu yang nantinya akan berperan dalam kehidupan pribadi dan sosialnya bahkan profesinya. Bahkan dalam sebuah lagu yang selalu diajarkan pada saya saat sekolah dulu yaitu guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, pelita dalam kegelapan, embun penyejuk dalam kehausan.  Dalam proses pendidikan tentunya tidak akan berjalan semulus yang kita bayangkan. banyak pihak yang berperan disana. Kita hanya melihat seorang guru datang ke kelas dan mengajar murid-muridnya, namun bukan proses dibalik semua tampilan itu. Kita jarang memperhatikan bahwa malam ha…

Pilih jadi penggerutu atau pecinta???

Pernahkah kita membaca lagi berulang-ulang kalimat yang akan diposting di media sosial? atau sekedar mengecek ulang komentar-komentar yang dilontarkan pada orang lain melaui media sosial? Bahagiakah kita setelah mempublikasikan sisi jelek orang lain di Media?
Terkadang banyak sekali ide atau masalah yang menggelitik kita untuk berkomentar. Banyak cerita yang membuat kita terpicu untuk berpendapat. Nah, tempat yang paling aman dan memiliki jejaring yang luas yaitu sosial media. Seperti yang pernah kita bahas sebelumnya, sosial media menganut azas kebebasan dalam berkomentar. Karena mungkin pada

Karena manusia itu bukan robot

Ada yang sudah pernah belum baca arikel ini "karena kita semua pernah menggambar dua gunung dengan matahari dan sawah bagaimana sekolah membunuh bakat kreatif kita?". Mungkin ada yang langsung terdiam atau bahkan marah dengan sistem pendidikan atau miris melihat kenyataan yang ada??? Saya juga termasuk orang yang terusik saat membaca artikel ini. Rasanya sangat tidak nyaman mengetahui fakta kelam pendidikan di Indonesia. 

Saya akan mulai dengan beberapa nilai-nilai. Kreativitas , bakat, moral, perilaku terpuji tidak bisa disamakan dengan bongkahan lilin atau satu kotak lego yang bisa dibentuk sesuka hati oleh pembuatnya. Manusia sudah dianugerahi berbagai bakat, kreativitas, dan moral yang berbeda-beda. Memang benar ada guru yang kaku