Langsung ke konten utama

Hati nurani seorang pengajar

Kalau kita lihat dalam kamus besar Bahasa Indonesia didik, mendidik artinya memelihara dan memberikan latihan. Mendidik mengandung nilai mengalirkan ilmu kepada orang lain dan memelihara agar ilmu itu tetap bermanfaat bagi orang tersebut. Dilihat dari definisi kata saja kita bisa paham bahwa "mendidik" merupakan suatu proses yang panjang dan membutuhkan pribadi yang telaten dalam melaksanakannya. Karena peserta didik adalah individu-individu yang nantinya akan berperan dalam kehidupan pribadi dan sosialnya bahkan profesinya. Bahkan dalam sebuah lagu yang selalu diajarkan pada saya saat sekolah dulu yaitu guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, pelita dalam kegelapan, embun penyejuk dalam kehausan. 
Dalam proses pendidikan tentunya tidak akan berjalan semulus yang kita bayangkan. banyak pihak yang berperan disana. Kita hanya melihat seorang guru datang ke kelas dan mengajar murid-muridnya, namun bukan proses dibalik semua tampilan itu. Kita jarang memperhatikan bahwa malam hari sebelumnya guru berjuang membuat bahan ajar untuk muridnya, bagian kurikulum menyusun jadwal pembelajaran, bagian administrasi, hingga petugas kebersihan yang bangun lebih awal untuk menyiapkan kelas. Pendidikan adalah suatu sistem, suatu sinergi antara banyak orang dengan tujuan yang sama, mencerdaskan anak didiknya. 
Mendidik bukanlah kegiatan yang
serba benar. Salah merupakan suatu persoalan yang biasa dalam hidup. Namun dari sebuah kesalahan kita bisa melihat kualitas pendidikan. Dari sebuah kesalahan kita bisa melihat kualitas masing-masing individu dalam sinergi ini. Salah itu adalah hal yang wajar, oleh karena itulah butuh adanya pendidikan untuk meminimalisir kesalahan tersebut. Namun bagaimana mungkin seorang pendidik yang harusnya memelihara dan memberikan pelatihan menjadikan suatu kesalahan sebagai alat untuk membunuh karakter seseorang. Pemberian label "bodoh", "tidak bertanggung jawab", "tidak Kompeten" dan lain sebagainya merupakan pisau tajam yang langsung akan menusuk peserta didik. Sejatinya mereka tidak salah, peserta didik tidak salah, petugas juga tidak salah, mereka hanya kurang paham. Kata kuncinya adalah "telaten" yaitu bagaimana pendidik dapat terus berjiwa besar dalam mengarahkan orang lain bukan melakukan judgement benar dan salah.
Belum habis masalah labeling yang senantiasa bisa menghancurkan nama baik seseorang, muncul pula perdebatan antara pekerjaan dan profesi. Pendidik itu profesi atau jati diri? Memang manusiawi saat "mendidik" dijadikan ladang pekerjaan, tentunya manusia hidup membutuhkan uang. Profesi pendidik membutuhkan imbalan yang setimpal dengan pekerjaannya. Namun bukan berarti uang menjadi patokan jasa yang diberikan. Hati saya sungguh hancur saat mendengar seorang guru berkata "jika tidak ada uangnya, saya ngak mau". Bukankah pendidik itu adalah jati diri, dilakukan karena mempunyai landasan keilmuan tertentu, memiliki jiwa, bukan dilakukan karena jumlah uang tertentu. Kalau bicara seperti ini pastinya saya merupakan manusia paling munafik dimata banyak orang.
Kalau niat dari awal bukan mendidik dan jika semua yang dilakukan harus mendapat balasan setimpal, maka semua itu jauh dari kata ikhlas dan syukur. Energi negatif itu akan terpancar ke alam dan memberikan efek negatif pula pada prosesnya. Seorang pendidik yang sejati akan merasa bahagia saat menyebarluaskan ilmunya, bangga saat manusia yang ia didik berhasil dan tidak merasa proses itu sebagai beban yang harus dibayar dengan uang yang banyak sebagai balas jasanya. 
Jika mereka mau melihat lebih luas, ada banyak sekali guru diluar sana yang memberikan ilmunya namun hanya digaji sepersekian persen dari penghasilan perbulan mereka. Bahkan di tempat-tempat terpencil yang jauh dari kata cukup dalam hal fasilitas. Disini, mendidik dalam ruangan ber-AC, disediakan layar proyektor, punya laptop, alat tulis yang melimpah ruah, dan lain sebagainya. Dan mereka masih saja belum bisa mengerti dan menghargai keberadaan orang lain. 
Hidup memang butuh uang, namun uang bukanlah segalanya. Saya ingat seoarng guru pernah memberikan pesan "nak, lakukanlah yang terbaik untuk semua orang tanpa mengharap imbalan, uang itu akan datang dengan sendirinya" karena Tuhan juga telah berkata rejeki setiap makhluk di dunia ini tidak akan tertukar, kita akan mendapatkan apa yang paling pas untuk kita dan Dia paling tahu apa yang paling pas untuk umatNya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pilih jadi penggerutu atau pecinta???

Pernahkah kita membaca lagi berulang-ulang kalimat yang akan diposting di media sosial? atau sekedar mengecek ulang komentar-komentar yang dilontarkan pada orang lain melaui media sosial? Bahagiakah kita setelah mempublikasikan sisi jelek orang lain di Media?
Terkadang banyak sekali ide atau masalah yang menggelitik kita untuk berkomentar. Banyak cerita yang membuat kita terpicu untuk berpendapat. Nah, tempat yang paling aman dan memiliki jejaring yang luas yaitu sosial media. Seperti yang pernah kita bahas sebelumnya, sosial media menganut azas kebebasan dalam berkomentar. Karena mungkin pada

Karena manusia itu bukan robot

Ada yang sudah pernah belum baca arikel ini "karena kita semua pernah menggambar dua gunung dengan matahari dan sawah bagaimana sekolah membunuh bakat kreatif kita?". Mungkin ada yang langsung terdiam atau bahkan marah dengan sistem pendidikan atau miris melihat kenyataan yang ada??? Saya juga termasuk orang yang terusik saat membaca artikel ini. Rasanya sangat tidak nyaman mengetahui fakta kelam pendidikan di Indonesia. 

Saya akan mulai dengan beberapa nilai-nilai. Kreativitas , bakat, moral, perilaku terpuji tidak bisa disamakan dengan bongkahan lilin atau satu kotak lego yang bisa dibentuk sesuka hati oleh pembuatnya. Manusia sudah dianugerahi berbagai bakat, kreativitas, dan moral yang berbeda-beda. Memang benar ada guru yang kaku