Langsung ke konten utama

Karena manusia itu bukan robot

Ada yang sudah pernah belum baca arikel ini "karena kita semua pernah menggambar dua gunung dengan matahari dan sawah bagaimana sekolah membunuh bakat kreatif kita?". Mungkin ada yang langsung terdiam atau bahkan marah dengan sistem pendidikan atau miris melihat kenyataan yang ada??? Saya juga termasuk orang yang terusik saat membaca artikel ini. Rasanya sangat tidak nyaman mengetahui fakta kelam pendidikan di Indonesia. 

disadur dari: http://tiarajati99.blogspot.com/2012/07/ini-adalah-lukisa-carissa-tiara-murid.html
sebagai salah satu bukti bahwa anak Indonesia itu bukan robot

Saya akan mulai dengan beberapa nilai-nilai. Kreativitas , bakat, moral, perilaku terpuji tidak bisa disamakan dengan bongkahan lilin atau satu kotak lego yang bisa dibentuk sesuka hati oleh pembuatnya. Manusia sudah dianugerahi berbagai bakat, kreativitas, dan moral yang berbeda-beda. Memang benar ada guru yang kaku
dan ingin muridnya mengikuti setiap perintahnya bahkan sampai pelajaran menggambar harus menggambar 2 gunung dan sawah itu bisa kita jumpai dengan gampang. Memang benar ada suasana menakutkan yang entah mengapa diciptakan untuk membat anak cemas mengikuti ujian. Memang benar ada senior yang memperlakukan juniornya seperti pesuruh dengan alasan bina mental. Namun sekali lagi  kreativitas , bakat, moral, perilaku terpuji tidak bisa disamakan dengan bongkahan lilin atau satu kotak lego yang bisa dibentuk sesuka hati oleh pembuatnya. Karena manusia itu bukan robot.

Pengalaman saya saat berada di taman kanak-kanak, saya masih ingat dengan jelas kenapa bu guru mencontohkan gambar dua pohon di papan tulis. Kota kelahiran saya (Bukittinggi) memang sudah diciptakan seperti apa yang digambarkan ini. Saya juga ingat saat bu guru bercerita dua gunung ini adalah gunung marapi dan gunung singgalang yang kalian sering lihat sehari-hari. Memang benar dari kota kami terlihat dua gunung ini berdampingan, dan saya masih ingat kalau gambar saya dan teman-teman bukanlah dua gunung dengan sawah karena kami punya imajinasi masing-masing. Bu guru tidak menyalahkan kami atas hal itu. 

Kemampuan kreatif itu berbeda-beda. saya ingat waktu diminta menggambar saya langsung mengambil kertas dan mulai menggambar apa yang terlintas di pikiran saya. Namun teman saya tidak bisa begitu, ia lebih suka meminta guru mencontohkan sesuatu kepadanya terlebih dahulu. Guru memang harus lebih banyak tahu dan lebih kreatif dalam memberikan pelajaran dan contoh kepada muridnya sehingga murid yang terbentuk juga kreatif dalam menjalankan tugasnya. Namun pada kenyataannya guru kita bukan Bapak Tino Sidin yang bisa mencontohkan berbagai gambara yang berbeda setiap harinya. Mereka tentunya juga punya keterbatasan. Saya ingat pesan guru saya yang berkata "ini gambar ibu, dua gunung dan pohon, kalian bisa menggambar hal lain"'.

Pengalaman kedua saat saya berkesempatan mengunjungi anak-anak kornan gempa di Sumatera Barat. Saat ada Kegiatan menggambar mereka tidak lantas menggambar dua gunung dan sawah. 

Pengalaman ketiga saat saya membantu posko bencana di Kota Jogja. Saya tidak menemukan satu anak pun yang menggambar dua gunung dan sawah, tetapi secara umum mereka menggambar satu gung dan sapi. Karena memang itu yang mereka lihat sehari-hari. 

Saya tidak menampik bahwa memang ada sebagian kalangan yang kaku dengan pembelajaran mereka namun diluar sana begitu banyak guru-guru yang istimewa, yang memfasilitasi anaknya dengan baik, mengajarkan nilai moral dan membuka pintu kreativitas tanpa batas bagi muridnya. Sampai kapan kita harus terus menyalahkan??? atau berlomba-lomba menekukan kesalahan dari sistem yang sudah berjalan???

Pendidikan itu milik kita bersama dan kita lah yang mengajarkan dan menjalankannya bukan hanya guru. Peserta didik bukan objek yang bisa dibentuk dengan gampangnya, mereka punya pemikiran masing-masing yang walaupun dikekang akan tetap berkembang dengan caranya masing-masing. 

Jangan budayakan terus kritik dan salah menyalahkan diantara kita. Tidak usah menajamkan jari telunjuk untuk menunjuk orang-orang yang kita anggap salah. Mari mulai revolusi mental dengan mencoba budaya memuji dan memulai dari diri sendiri. Pertanyaan yang perlu kita ajukan pada diri adalah "saya sudah berbuat apa untuk kebaikan generasi yang akan datang?" 

Komentar

suherdi68 mengatakan…
Manusia makhluk yang unik, dididik dengan cara yang sama belum tentu hasilnya sama. Betul gak Bu?
Ola Viola mengatakan…
betul pak... bahkan anak kembarpun ngk akan identik sifatnya

Postingan populer dari blog ini

Hati nurani seorang pengajar

Kalau kita lihat dalam kamus besar Bahasa Indonesia didik, mendidik artinya memelihara dan memberikan latihan. Mendidik mengandung nilai mengalirkan ilmu kepada orang lain dan memelihara agar ilmu itu tetap bermanfaat bagi orang tersebut. Dilihat dari definisi kata saja kita bisa paham bahwa "mendidik" merupakan suatu proses yang panjang dan membutuhkan pribadi yang telaten dalam melaksanakannya. Karena peserta didik adalah individu-individu yang nantinya akan berperan dalam kehidupan pribadi dan sosialnya bahkan profesinya. Bahkan dalam sebuah lagu yang selalu diajarkan pada saya saat sekolah dulu yaitu guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, pelita dalam kegelapan, embun penyejuk dalam kehausan.  Dalam proses pendidikan tentunya tidak akan berjalan semulus yang kita bayangkan. banyak pihak yang berperan disana. Kita hanya melihat seorang guru datang ke kelas dan mengajar murid-muridnya, namun bukan proses dibalik semua tampilan itu. Kita jarang memperhatikan bahwa malam ha…

Pilih jadi penggerutu atau pecinta???

Pernahkah kita membaca lagi berulang-ulang kalimat yang akan diposting di media sosial? atau sekedar mengecek ulang komentar-komentar yang dilontarkan pada orang lain melaui media sosial? Bahagiakah kita setelah mempublikasikan sisi jelek orang lain di Media?
Terkadang banyak sekali ide atau masalah yang menggelitik kita untuk berkomentar. Banyak cerita yang membuat kita terpicu untuk berpendapat. Nah, tempat yang paling aman dan memiliki jejaring yang luas yaitu sosial media. Seperti yang pernah kita bahas sebelumnya, sosial media menganut azas kebebasan dalam berkomentar. Karena mungkin pada