Langsung ke konten utama

Pilih jadi penggerutu atau pecinta???


Pernahkah kita membaca lagi berulang-ulang kalimat yang akan diposting di media sosial? atau sekedar mengecek ulang komentar-komentar yang dilontarkan pada orang lain melaui media sosial? Bahagiakah kita setelah mempublikasikan sisi jelek orang lain di Media?

Terkadang banyak sekali ide atau masalah yang menggelitik kita untuk berkomentar. Banyak cerita yang membuat kita terpicu untuk berpendapat. Nah, tempat yang paling aman dan memiliki jejaring yang luas yaitu sosial media. Seperti yang pernah kita bahas sebelumnya, sosial media menganut azas kebebasan dalam berkomentar. Karena mungkin pada
suatu waktu atau suatu situasi kita tidak bisa berkomentar secara langsung kepada orang lain. 

Tapi apakah pantas kita menjelek-jelekkan orang yang tidak disukai dan mengungkapkan semua aib yang tentunya kita belum bisa memastikan 100% kebenarannya? apakah pantas SARA dijadikan alasan sebagai salah satu syarat bahwa orang itu tidak pantas untuk dinilai baik?

Berhati-hatilah, 
Karena bisa jadi kita bukan korban, bukan orang yang tersakiti,,
Tak perlu hal ini menjadi alasan untuk menghalalkan pembicaraan jelek tentang orang lain...

Berhati-hatilah,
Karena bisa jadi kita bukan korban tetapi adalah pelaku bullying sebenarnya...

Bullying merupakan istilah yang menjelaskan adanya tindakan kekerasan atau penindasan yang dilakukan untuk mengintimidasi orang lain. Bullying banyak sekali terjadi disekitar kita, mulai dari pemukulan, pemerasan, kata-kata kasar bahkan tatapan sinis kepada orang lain. 

Media sosial yang tidak memungkinkan adanya kontak fisik dari pemakainya pun tidak lepas dari adanya bullying. 

Jadi kapanpun, dimanapun, jagalah kata
Luka karena kata akan lebih pilu dari luka karena sebilah pedang. Apalagi dikata-katainya di Media. Kata anak muda sekarang "sakiiiitt... sakit nya tu disini #tunjukdada". Walau orang itupun belum tentu akan membaca aib yang kau sebarkan tapi tetap saja itu namanya "fitnah". Atau begitu nikmatkah hidup sebagai penggerutu? 

Hargailah cinta, cinta pada sesama adalah cinta terbesar bagi dirimu...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati nurani seorang pengajar

Kalau kita lihat dalam kamus besar Bahasa Indonesia didik, mendidik artinya memelihara dan memberikan latihan. Mendidik mengandung nilai mengalirkan ilmu kepada orang lain dan memelihara agar ilmu itu tetap bermanfaat bagi orang tersebut. Dilihat dari definisi kata saja kita bisa paham bahwa "mendidik" merupakan suatu proses yang panjang dan membutuhkan pribadi yang telaten dalam melaksanakannya. Karena peserta didik adalah individu-individu yang nantinya akan berperan dalam kehidupan pribadi dan sosialnya bahkan profesinya. Bahkan dalam sebuah lagu yang selalu diajarkan pada saya saat sekolah dulu yaitu guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, pelita dalam kegelapan, embun penyejuk dalam kehausan.  Dalam proses pendidikan tentunya tidak akan berjalan semulus yang kita bayangkan. banyak pihak yang berperan disana. Kita hanya melihat seorang guru datang ke kelas dan mengajar murid-muridnya, namun bukan proses dibalik semua tampilan itu. Kita jarang memperhatikan bahwa malam ha…

Karena manusia itu bukan robot

Ada yang sudah pernah belum baca arikel ini "karena kita semua pernah menggambar dua gunung dengan matahari dan sawah bagaimana sekolah membunuh bakat kreatif kita?". Mungkin ada yang langsung terdiam atau bahkan marah dengan sistem pendidikan atau miris melihat kenyataan yang ada??? Saya juga termasuk orang yang terusik saat membaca artikel ini. Rasanya sangat tidak nyaman mengetahui fakta kelam pendidikan di Indonesia. 

Saya akan mulai dengan beberapa nilai-nilai. Kreativitas , bakat, moral, perilaku terpuji tidak bisa disamakan dengan bongkahan lilin atau satu kotak lego yang bisa dibentuk sesuka hati oleh pembuatnya. Manusia sudah dianugerahi berbagai bakat, kreativitas, dan moral yang berbeda-beda. Memang benar ada guru yang kaku